EmasDinarku.com

Call : 0431-3321217 Email-IconFacebook-IconTwitter-Icon

Grafik Mingguan

Grafik Bulanan

Grafik Tahunan

Grafik 10 Tahun

Waspada Emas Dinar Naik Tajam


Setiap kali QE diluncurkan, the Fed sejatinya sedang memperkaya diri  (menggelembungkan balance sheet-nya). Dengan apa ?, dengan uang baru yang dicetaknya dari awang-awang. Karena adanya sejumlah ‘uang baru’ ini supply uang di pasar bertambah sedangkan sisi demand-nya yaitu transaksi barang dan jasa yang membutuhkan uang tersebut tidak serta merta bertambah dengan proporsi yang sama.

Walhasil seperti hukum supply and demand pada umumnya, ketika supply melebihi demand maka harga jatuh. Karena supply itu kali ini adalah uangnya the Fed yaitu US$, maka setiap kali QE dilakukan – selalu diikuti dengan kejatuhan nilai tukar US$ itu terhadap barang dan jasa. Itulah sebabnya beberapa menit setelah pengumuman the Fed semalam, harga emas langsung melonjak di atas US$ 1,660/ozt. Harga emas dunia dalam Dollar merupakan indikator paling akurat untuk melihat penurunan daya beli Dollar terhadap komoditi riil seperti kebutuhan kita sehari-hari.

Kalau QE 1 membawa harga emas dari kisaran US$ 800-an ke angka US$ 1,200-an dalam periode dua tahun kemudian (2008-2010) ; kemudian QE 2 membawa harga emas dari kisaran US$ 1,200 ke US$ 1,600 (2010-2012); maka berapa harga emas akan dilambungkan oleh QE 3 ini ?, tebakan yang paling mudah adalah US$ 2,000 sampai dua tahun mendatang (2012-2014).

Namun ada perbedaannya antara QE sekarang dengan dua  QE sebelumnya. Bila dua QE sebelumnya sudah diberi batasan nilai masing-masing US$ 600 milyar, maka QE sekarang dibuat dalam open-ended statement yang berbunyi “…will continue until economic conditions improve - …akan terus dilakukan sampai kondisi ekonomi membaik”. Artinya the Fed dapat terus menggelembungkan asset-nya kapan saja dan berapa saja yang mereka butuhkan sampai ekonomi Amerika Serikat dipandangnya cukup membaik.

Dengan QE yang tidak diberi batasan atau di pasar disebut QE-infinity ini, dampak QE kali ini terhadap inflasi barang-barang atau yang terwakili oleh harga emas-pun menjadi tidak terbatas. Bila pelaksanaan QE itu ‘dicicil’ perbulan, maka setiap bulan akan ada motor penggerak inflasi baru ya EQ tadi.

Tetapi apakah penurunan daya beli US$ akan serta merta diikuti dengan penurunan daya beli uang lain di dunia seperti Rupiah ?, seharusnya memang tidak. Bila US$ daya belinya turun – Rupiah mestinya tidak harus ikut turun. Namun karena cadangan devisa kita juga tersimpan dalam US$ yang kini nilainya mencapai sekitar US$ 109 milyar, transaksi ekpor –impor kita mengunakan US$ dlsb. maka langsung ataupun tidak langsung dampak penurunan daya beli US$ itu akan mengimbas pada uang Rupiah kita juga.

Lantas bagaimana agar jerih payah kita semua tidak terus tergerus daya belinya oleh inflasi yang nampaknya akan berslangsung secara ‘infinity’ tersebut di atas ?. Yang terbaik adalah mengamankan hasil jerih payah kita dalam bentuk benda riil – yang nilainya terbawa pada benda itu sendiri, bukan nilai di atas kertas.

Apa contohnya ?, yang terbaik adalah barang dagangan bila Anda pandai berdagang – karena disamping nilainya terjaga, ketika berputar barang dagangan tersebut memberikan hasil.

Bila Anda belum pandai berdagang, pilihan berikutnya adalah asset produktif seperti ruko yang disewakan, asrama, kantor dan lain sebagianya. Investasinya  sendiri mampu mempertahankan nilai (tanah dan bangunan), hasil sewanya menjadi pendapatan rutin bagi pemiliknya.

Di antara asset produktif yang juga kami  rekomendasikan adalah sawah atau kebun yang dimakmurkan dengan berbagai tanaman di atasnya. Tanah sawah atau kebunnya sendiri merupakan asset yang mampu mempertahankan nilai, panenan dari tanaman di atasnya menjadi hasil investasi yang menjanjikan dan sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Berkebun memiliki nilai lebih yang tidak terhitung dengan uang, bukan hanya mempertahankan nilai dan memberikan hasil panenan – berkebun ikut menyediakan/mempertahankan udara bersih dan mempertahankan cadangan air yang keduanya sangat dibutuhkan untuk kelangsungan umat manusia di muka bumi ini.  Barangkali ini pula hikmahnya mengapa kita tetap disuruh menanam benih yang ada di tangan kita meskipun seandainya rangkaian peristiwa hari kiamat sudah mulai.

Bila berdagang belum bisa, berkebun-pun belum memungkinkan – maka pilihan berikutnya yang mudah dan proven ya dengan apa yang kita perkenalkan di situs ini yaitu Dinar. Anda yang mengikuti pergerakan Dinar ini sejak sebelum QE 1, Anda tahu bahwa nilai Dinar Anda sudah melonjak lebih dari dua kalinya ?, itu menunjukkan bukti bahwa emas terbukti mampu dengan sangat baik mempertahankan nilai ketika mata uang kertas di seluruh dunia mengalami penurunan daya belinya.

Saat ini kami sedang mematangkan program kombinasi antara pilihan pertama dan kedua tersebut di atas. Kami akan dapat menyediakan resources yang cukup untuk lahan, bibit tanaman, keahlian, pupuk-pupuk organic, pasar dlsb bagi masyarakat yang ingin belajar berkebun – sementara sambil mempersiapkan segala sesuatunya dana investasi sebelum digunakan (untuk membayar lahan, bibit dlsb) dipertahankan dalam bentuk Dinar.

Dengan demikian modal investasi aman terproteksi nilainya, dan ketika kesempatan itu datang – siap diproduktifkan dengan manfaat yang optimal. Bila Anda mengikuti program ini nantinya, maka Dinar Anda akan berganti menjadi lahan-lahan yang hijau penuh tanaman produktif  di atasnya, lahannya adalah hak milik Anda dan demikian pula hasilnya.

Bagi yang tertarik dengan program yang kita sebut KKP ini – Kepemilikan Kebun Produktif - ‘show units’ dari kebun-kebun ini sudah bisa dilihat di kebun kami di Jonggol untuk skala mini atau mikro dan di Blitar untuk commercial full-scale-nya. Tanah menjadi milik Anda (SHM), dan pilihan tanamannya pun pilihan Anda.

Program kepemilikan kebun produktif ini akan kami mulai perkenalkan detilnya bersamaan dengan acara Pesantren Wirausaha dan ‘Tour de Kebun’  yang berlangsung antara tanggal 15-16 September 2012 di kebun Blitar kami dengan tema “Restorasi Enterpreneurship Muslim”. 

Barangkali inilah hikmahnya, ketika Amerika sedang melakukan langkah penurunan daya beli uangnya secara ‘infinity’ – tidak terbatas; maka waktunya kita untuk menyadari dan mensyukuri bahwa karunia Allah-lah yang secara ‘infinity’ ditaburkan di bumi ini untuk kita; untuk manusia yang diciptakanNya dari bumi (tanah) dan dijadikanNya pula sebagai pemakmurnya ! InsyaAllah.

M.Iqbal