EmasDinarku.com

Call : 0431-3321217 Email-IconFacebook-IconTwitter-Icon

Grafik Mingguan

Grafik Bulanan

Grafik Tahunan

Grafik 10 Tahun

Investasi ala Bawang Merah


Manfaat lain dari bawang merah adalah sebagai suatu model untuk menjadi pelajaran, termasuk di antaranya model untuk investasi.

Bagi Kita yang bingung memikirkan investasi apa yang harus Kita lakukan dengan uang hasil jerih payah Kita, menggunakan lapisan-lapisan kulit bawang merah sebagai model investasi Kita – insyaAllah akan menjadikan investasi Kita berdaya guna gkita – dunia dan akhirat.

Illustrasi dibawah adalah urutan dari investasi tersebut.

Lapisan paling luar investasi Kita yang paling rentan dengan berbagai resiko adalah justru investasi Kita yang mengejar keuntungan semata. Paling besar resikonya karena seringkali untung yang Kita kejar justru tidak Kita peroleh.

Bahkan karena mengejar keuntungan yang tidak kunjung Kita peroleh, sering investasi paling luar ini malah mendatangkan resiko lain seperti jantungan, frustasi, merusak karakter Kita dan lain sebagainya.

Sebagaimana kulit bawang yang paling luar dan paling tipis, yang paling cepat kering atau rusak , maka investasi yang mengejar keuntungan semata ini mestinya menjadi yang paling tipis atau paling sedikit porsinya dari keseluruhan asset investasi Kita – baik asset itu berupa harta maupun waktu Kita.

Lapisan kulit bawang yang kedua sedikit lebih tebal dari yang pertama, di dunia investasi ini adalah jenis investasi di social business. Investasi yang tidak mengejar keuntungan semata, tetapi juga berusaha memberikan manfaat sosial yang luas. Menciptakan lapangan kerja bagi orang yang membutuhkan dlsb.

Karena niat Kita bukan semata-mata mencari untung, maka jenis investasi ini malah justru mengurangi resiko. Sekitainya rugi dari sisi material-pun Kita masih bisa untung dari sisi lainnya yaitu ekonomi yang berputar, lapangan kerja yang tercipta dlsb.

Lebih dalam lagi adalah investasi yang aman, Kita tidak mungkin rugi lha wong niatnya memang murni untuk amal. Maka untuk yang ini mestinya lebih banyak dari porsi yang pertama dan kedua.

Di lapisan keempat adalah investasi Kita untuk keluarga dan kaum kerabat. Lebih tidak pernah rugi lagi karena uang yang Kita nafkahkan untuk mereka selain bernilai sedekah juga bernilai menyambung silaturahim.

Mereka pula yang akan ringan kaki menolong Kita di kala kesusahan, mendoakan Kita ketika Kita sudah tidak Ada dst. Maka investasi untuk mendidik mereka, melatih mereka untuk mampu berusaha mandiri dlsb. akan menjadi investasi Kita yang berdaya guna gkita.

Lapisan inti dari investasi Kita yang sesungguhnya adalah apa yang disebut Al-Baaqiyaatushshaalihaat atau amal shaleh yang kekal yaitu shalat wajib lima waktu, dzikir kepada Allah dengan tasbih, tahmid dan takbir, dan juga seluruh amal kebajikan lainnya.

Di dalamnya termasuk membangun masjid, mendirikan sekolah, menghidupkan jamaah, mengentaskan kemiskinan, memberi makan di hari kelaparan, membebaskan yang tertindas, membela yang terdzalimi dst.

Maka investasi Kita jenis kelima inilah yang seharusnya menjadi investasi Kita yang paling dominan – inti dari sebuah bawang merah. Kabar bahwa Al-Baaqiyaatushshaalihaat adalah investasi terbaik itu datangnya langsung dari Sang Maha Pencipta melalui firmanNya :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS 18 :46).

Maka ketika Kita galau dalam menimbang apa-apa yang menjadi fokus dari investasi Kita, salah satu caranya adalah memperhatikan apa yang Kita makan – yaitu antara lain bawang merah.

Dari bawang merah ini Kita akan dapat melihat dengan visual, mana kulit yang tipis, yang lebih tebal sampai inti dari bawang merah itu.

Begitu pulalah investasi Kita seharusnya terstruktur, dari yang paling beresiko dunia akhirat, sampai yang paling aman untuk dunia akhirat Kita – yang terakhir inilah yang seharusnya menjadi fokus utama atau inti dari investasi Kita. Inilah investasi yang paling aman itu, InsyaAllah !. pen M. Iqbal dg editing seperlunya